July 30, 2021

diksinews

Membuat Kata Jadi Lebih Bermakna

Studi: COVID-19 Dapat Menyebabkan Disfungsi Ereksi

2 min read

Sejak Mei 2020, para ahli telah membicarakan kemungkinan adanya pengaruh COVID-19 terhadap fungsi ereksi laki-laki. Sejumlah studi menemukan adanya hubungan yang belum terdefenisikan antara infeksi COVID-19 dengan defisiensi hormon testosteron, ditemukannya unsur virus SARS-CoV-2 dalam sperma, hingga adanya kerusakan sel endotel luas yang bisa meningkatkan risiko impotensi.

Sebuah studi terbaru yang dipublikasi The World Journal of Men’s Health menjabarkan kondisi yang terjadi pada dua orang laki-laki yang terinfeksi COVID-19. Satu orang mengalami gejala ringan dan sempat dirawat di rumah sakit, sedangkan satu lainnya isolasi mandiri karena memiliki gejala ringan.

Sekitar 6 hingga 8 bulan kemudian, dua orang ini masih memiliki partikel-partikel virus SARS-CoV-2 di dalam penis mereka. Mereka juga mengalami kondisi disfungsi ereksi parah hingga harus menjalani penile prosthesis atau operasi implan penis, padahal tidak memiliki riwayat impotensi sebelum terinfeksi COVID-19.

Mendapati kondisi kedua pasien ini, tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Miami Miller melakukan pemeriksaan pada sampel jaringan penis kedua pasien tersebut. Sebagai perbandingan, peneliti juga memeriksakan jaringan penis dari dua pasien disfungsi ereksi tanpa riwayat COVID-19.

BACA JUGA  Intra Urine Growth Restriction (IUGR), Solusi Saat Janin Tidak Berkembang Dalam Kandungan

Pemeriksaan tersebut menemukan adanya partikel virus SARS-CoV-2 dan disfungsi sel endotel dalam sampel jaringan penis dua pasien penyintas COVID-19. Sel endotel pembuluh darah adalah sel yang melapisi bagian dalam dinding pembuluh darah. Sedangkan pada sampel jaringan pasien disfungsi ereksi tanpa riwayat COVID-19, peneliti tidak menemukan adanya kerusakan sel endotel.

Dalam studi lainnya telah diketahui bahwa virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ditemukan di dalam dinding pembuluh darah yang disebut endotelium. Serangan virus pada endotelium menyebabkan kerusakan sel endotel luas atau disfungsi endotel.

Disfungsi endotel adalah kondisi di mana lapisan pembuluh darah kecil gagal menjalankan semua fungsinya secara normal. Akibatnya jaringan organ yang seharusnya menerima suplai dari pembuluh tersebut bisa mengalami kerusakan.

“Kami menemukan bahwa virus ini memengaruhi aliran pembuluh darah yang mensuplai darah ke penis, sehingga menyebabkan disfungsi ereksi,” kata Direktur Program Urologi Reproduktif di Miller School of Medicine University of Miami sekaligus peneliti senior Dr. Ranjith Ramasamy. “Pembuluh darah tersebut kemudian tidak berfungsi dan tidak mampu memberikan cukup darah ke penis untuk ereksi.”

BACA JUGA  Masif Lakukan Aksi Sosial, Warga Apresiasi Gerakan Relawan Pilar

Ramasamy membandingkan kondisi disfungsi ereksi tersebut dengan kerusakan organ di paru-paru, ginjal, dan otak yang ditemukan pada banyak pasien COVID-19 yang juga berhubungan dengan kerusakan sel endotel.

“Kami pikir penis juga bisa terpengaruh dengan cara yang sama,” kata Ramasamy.

Ramasamy menyampaikan, meskipun kemungkinan hanya terjadi pada sedikit orang, efek jangka panjang dari COVID-19 ini perlu diwaspadai karena bisa bersifat permanen.

“Ini menunjukkan bahwa laki-laki yang terinfeksi COVID-19 harus menyadari bahwa disfungsi ereksi bisa menjadi efek buruk dari virus, dan harus segera periksa ke dokter jika mengalami gejala disfungsi ereksi,” kata Ramasamy.

Para ahli menekankan bahwa lebih banyak penelitian perlu dilakukan untuk mencari tahu lebih pasti hubungan infeksi COVID-19 dengan disfungsi ereksi pada laki-laki. Selain itu, temuan ini semakin mengingatkan kita betapa pentingnya mencegah diri dari terinfeksi COVID-19.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *