July 30, 2021

diksinews

Membuat Kata Jadi Lebih Bermakna

Mengapa Saat Lapar Gampang Marah, Ini Penjelasan Ilmiahnya

2 min read

Perut keroncongan kerap bikin suasana hati tak karuan. Sampai-sampai muncul istilah ‘hangry‘, gabungan dari kata ‘hungry‘ dan ‘angry‘ atau lapar dan marah. Konon, rasa lapar mudah membuat emosi negatif tersulut. Mengapa demikian?

Husnawati, pengajar Departemen Biokimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Pertanian Bogor (IPB), mengatakan, kombinasi rasa lapar dan amarah merupakan respons emosional yang rumit. Hal ini melibatkan interaksi biologi, kepribadian, dan isyarat lingkungan.

Pertama, lapar dan amarah dilihat dari interaksi biologi. Pada otak, sistem limbik bertanggung jawab akan berbagai macam emosi, baik itu marah, takut, juga dorongan seksual. Di sini emosi diterjemahkan secara biokimia dan diberi label ‘menyenangkan’ dan ‘tidak menyenangkan’. Efeknya, timbul pelepasan hormon senang dan hormon stres.

Marah adalah respons emosional kuat saat tubuh merasa ada ancaman atau bahaya. Sumbu hipotalamus-pituitary-adrenal (HPA) otak kemudian aktif dan memicu respons ‘fight or flight‘, lawan atau lari. Pada beberapa orang, rasa lapar dianggap sebagai ancaman sehingga timbul kondisi ‘hangry’.

BACA JUGA  7 Jenis Lapar, Ada yang Harus Dipenuhi dan Ada yang Mesti Diabaikan

Rasa lapar dalam waktu lama membuat tubuh stres. Saat hormon stres dilepaskan, terjadi penurunan hormon serotonin yang berperan dalam mengatur suasana hati.

“Kadar serotonin yang rendah sangat berkaitan dengan munculnya rasa marah dan kecenderungan ke arah perilaku kekerasan,” kata Husnawati, dalam pernyataan resmi yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (24/5).

Kedua, ‘hangry‘ dilihat dari sisi kepribadian dan pengaruh lingkungan. Perilaku emosi manusia karena makanan terbentuk sejak masa kanak-kanak. Orang yang tinggal di lingkungan yang memperebutkan makanan sebagai usaha untuk bertahan hidup sangat mudah mengalami ‘hangry‘.

Dia melanjutkan, ‘hangry‘ juga dipengaruhi tingkat kesadaran emosional seseorang. Orang dengan kesadaran emosional lebih berkembang akan sadar bahwa rasa lapar bisa menjurus pada emosi negatif. Mereka pun bisa mengontrol emosi negatif sehingga cenderung tidak mudah ‘hangry‘.

Sementara itu, aktivitas berpuasa bisa mengajarkan orang untuk mengelola emosi dari rasa lapar. Puasa akan mengatur dan mengaktifkan metabolisme tubuh yang jarang dipakai misal, pengaturan pergantian kerja hormon insulin dan glukagon. Puasa di bulan Ramadan bagi umat Islam juga melatih bahwa rasa lapar selama kurang dari 20 jam bukan merupakan ancaman.

BACA JUGA  Kepala BPKAD Kabupaten Serang: Pengelolaan Anggaran Daerah Utamakan Kesejahteraan Masyarakat

“Sehingga orang-orang yang terbiasa berpuasa akan merespons rasa lapar dengan emosi yang netral atau malah positif,” imbuhnya.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *